Sentuhan Tangan Dingin Abana Dayah Madinatul Fata Banda Aceh Semakin Berkembang

BERITA18 Dilihat

 

Oleh: Bung Syarif**

 

Iftitah Mesjid Al Qurban merupakan mesjid utama kemukiman Lam Ara yang terletak di pinggiran kota Banda Aceh. Dalam komplek mesjid ini terdapat dua mesjid yaitu mesjid baru yang didirikan pada masa rezim orde lama, dan mesjid lama yang didirikan pada tahun 1920-an dan di renovasi pertama kali tanggal 14 -7 1956 M / 1375 H. Mesjid ini merupakan peninggalan bersejarah yang sampai sekarang masih utuh dan di fungsikan sebagai tempat ibadah dan tempat pengajian.

Di samping Mesjid lama ( Mesjid Tuha ) ini terdapat satu balai pengajian yang sudah di fungsikan sejak awal berdirinya mesjid dan juga merupakan warisan dari Abu Syiek Abdul Aziz. Namun dari tahun 80-an pengajian yang berlangsung di mesjid tuha dan di bale ini merupakan pengajian mingguan .

Pada awal tahun 2001 timbullah pemikiran dari panitia Mesjid dan tokoh tokoh masyarakat disekitarnya untuk mendirikan suatu dayah salafiyah (tradisional) di samping Mesjid tersebut. Setelah mengadakan musyawarah timbullah suatu hasil kesepakatan bahwa yang akan memimpin dayah tersebut adalah Tgk. H. Atasykuri beliau merupakan putra Lambheu (Salah satu desa/gampong di Darul Imarah, Aceh Besar ).

Di usianya yang masih muda dan pada saat itu masih aktif mengajar di dayah Ruhul Fata Seulimum Aceh Besar. Kelanjutannya beberapa tokoh masyarakat meujumpai dan memohon kepada pimpinan Dayah Ruhul Fata yaitu Tgk. H Muchtar Luthfi AW yang akrab di sapa dengan Abon agar memberi izin kepada tgk. H. Atasykuri untuk memimpin dayah dan membina ummat di tempat kelahirannya.

Setelah mendapat Izin dari Gurunya, akhirnya Tgk. H. Atasykuri yang familiar di panggil Abana kembali ke kampung halamannya untuk mendirikan sebuah Dayah Salafiyah yang diberi nama dengan Dayah Madinatul Fata di Gampong Lampeot Kecamatan Banda Raya.

Dayah ini berdiri pada tanggal 5 Agustus 2001. Awal dari pada pendirian dayah pertama adalah cuma satu buah Balai Pengajian, Mushalla / Masjid tua, 4 buah Bilek / Kamar Santri dan 1 kamar mandi. Luas tanah pada saat pendirian pertama adalah ± 1472 M2. Kemudian pada tanggal 5 Januari 2002 diresmikanlah Dayah Madinatul Fata Oleh Al Mukarram

Tgk. H. Muchtar Luthfi atau yang lebih dikenal dengan Panggilan Abon, yaitu Guru

Tgk. H. Atasykuri sekaligus Pimpinan Dayah Ruhul Fata Seulimuem – Aceh Besar dan Dayah Madinatul Fata ini merupakan salah satu cabang dari Dayah Ruhul Fata Seulimum Aceh Besar.

Dayah Madinatul Fata yang beralamat di Jalan Mesjid Al-Qurban No. 5 Gampong Lampeuot Mukim Lam Ara Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh merupakan salah satu Dayah tradisional terbaik di Pusat Ibukota. Terakreditasi “A” dari Badan Akreditasi Dayah Aceh. Metode pembelajaran nya masih murni seperti yang diajarkan dan dijalankan oleh ulama ulama terdahulu, Aqidah nya berpegang kepada Imam Hasan Al Asy’ari dan Imam Al Maturidi, Fiqh nya bermazhab kepada Imam Syafi’i.

Dayah ini banyak meraih prestasi baik tingkat Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh hingga level nasional dalam bidang Musaqah Qiraatil Kutub (MQK). Saat ini Dayah Madinatul Fata santrinya ribuan dan sudah dibuka dua kampus mondok yaitu Santri Putra dan Santri Putri yang manajemen pengelolaannya terpisah dalam satu komplek yang dibatasi oleh tembok pagar yang kokoh dan tinggi. Bangunan Dayahnya tertata rapi dan menawan serta bersih dan asri dengan pohon-pohon yang rindam di komplek dayah seperti bangunan eropa, hehe. Jika anda penasaran coba pigi kesana.

Visi Dayah Madinatul Fata

Adapun Visi Dayah ini “Menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam yang mencetak kader pemimpin beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta unggul dalam Iptek dan kemandirian ekonomi”. Dalam menjalankan Visinya, Dayah ini memiliki Misi sebagai berikut:

a. Mencetak santriwan dan santriwati yang beriman, bertaqwa, berakhlaqul karimah, berjiwa pemimpin, mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin maju serta mampu untuk maju dengan terampil menghadapi tantangan hidup, berkualitas, dan siap menjadi contoh di masyarakat dan memasyarakatkan islam.

b. Mencetak kader hafiz al qur’an.

c. Mewujudkan pemenuhan Sapras (asrama penginapan) yang lebih layak dan memadai.

d. Mengembangkan koperasi sebagai penopang perekonomian pondok pesantren.

e. Mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi dayah dengan membuka peluang kerja bagi guru senior untuk menjalan dan mengembangkan Usaha Ekonomi Dayah

Figur Pimpinan Dayah.

Tgk. H. Atasykuri (Abana) lahir pada tanggal 15 Februari 1973 di desa Lambheu Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. Ayahnya bernama Tgk. Muhammad Hasyim Musthafa yang berasal dari Aceh Selatan. Sedangkan ibundanya bernama Siti Hawa adalah orang asli Aceh Besar. Beliau merupakan anak ke – 9 dari 11 bersaudara.

Sejak kecil, Abana telah sering di bawa oleh ayahandanya untuk menimba ilmu agama di beberapa tempat pengajian. Karena memang tekatnya yang kuat, pada tahun 1989 beliau memutuskan untuk menimba ilmu agama di Dayah Ruhul Fata Seulimeum Aceh Besar setelah tamat menjalani pendidikan di MTsN Keutapang dua Aceh Besar.

Setelah lama menimba ilmu agama di sana, akhirnya pada pertengahan tahun 2001 M, beliau mendapat izin dari gurunya yakni Tgk. H. Mukhtar Luthfi AW (Abon ) untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama.

Disamping mengemban tugas yang mulia mengajar di Dayah, beliau mendapat kepercayaan untuk menjabat ketua organisasi PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyyah ) Kota Banda Aceh.

Prestasi Santri Dayah Madinatul Fata

Walaupun Dayah ini masih tergolong muda untuk katagori Dayah Tradisional di Aceh bila di Bandingkan dengan Dayah Darussalam Al Waliyah, Labuhan Haji, Aceh Selatan, Dayah Mudi Mesra, Samalangan dan sejumlah Dayah Tradisional terkemuka lainnya di Aceh. Dayah ini sudah dikenal publik hingga ke manca negara (Malaysia).

Ini terbukti banyaknya Santri Malaysia yang mondok Pasca Tsunami dan Sebelum Pandemi Covid-19. Setidaknya ada 25 Santri Luar Negeri (Malaysia) yang mondok di dayah ini kala itu. Carlie Papa Romeo (CPR) pernah bincang-bincang dengan Santri dan Guru Dayah seputar kilas balik perkebangan Santri dan Prestasi Santri.

Adapun raihan Prestasi Dayah ini antara lain;

a. Juara I (Satu) Dayah Bersih dan Sehat se Aceh Tahun 2017

b. Juara I (Satu) dan II (Dua) MQK Kota Banda Aceh Tahun 2019

c. Juara III (Tiga) MFK Se Aceh Di Dayah Ulee Titi Tahun 2020

d. Juara Umum II (Dua) Mewakili Kafilah Banda Aceh Di MQK II Se Aceh Tahun 2021

e. Juara II (Dua) MQK Nasional Tahun 2023, Tgk. Zahratun Nufus Bidang Hadits Putri Marhalah Wustha.

f. Juara I (Satu), III (Tiga) dan Harapan I (Harapan Satu) MQK IV Tingkat Provinsi Tahun 2025.

Tentu Dayah ini terus berikhtiar dalam memperteguh posisi di Pusaran Ibukota. Layak disebut pusat mencetak kader ulama yang mumpuni kitab turats 20 tahun kedepan. Ini tercermin dengan konsistensi dalam menjaga kemampuan santri dalam penguasaan kitan kuning. Walau dayah ini sampai saat ini belum mengambil program Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang menjadi kekhususan penguatan legalitas agar diakui nasional.

Dayah ini cenderung memberikan opsi lain bagi santriwan/wati yang pingin berijazah formal mengambil paket pada Satuan Pendidikan Kesetaraan dari jenjang SD/MI sampai jenjang SMA/MA. Setidaknya berdasarkan informasi yang CPR terima ada santri Madinatul Fata yang menempuh jalur Paket C telah mengabdi di Kesatuan POLRI Polda Aceh.

Ia adalah salah satu anak dari Staf Disdik Dayah Kota Banda Aceh. CPR berkeyakinan jika Dayah ini mau menerima program SPM atau PDF Dayah Madinatul Fata semakin qece dan berkelas, sehingga nasab kedayahan semakin jelas sanad keilmuannya. Jika mengambil jalur Paket C maka disayangkan identitas legalitas formal tidak lagi tercermin sebagai Alumni Dayah Madinatul Fata. Tentu ini hanya satu pandangan dari sisi kenegaran Carlie Papa Romeo (CPR). Yang pasti tabek sigo.

Guru Dayah Madinatul Fata keren dan bersahaja, khususnya Tgk Khairul cs yang selama ini menjadi mitra sukses CPR dalam membangun kemitraan dalam giat Lomba Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) baik level Kota, Provinsi dan Nasional.

 

 

**Penulis adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, DPP ISAD Aceh periode 2025-2030, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *