Oleh: Ns. Dara Rizkasary, S.Tr.Kep
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan. Dahulu, seseorang harus datang ke puskesmas, rumah sakit, atau berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit dan pengobatan. Kini, hanya dengan membuka telepon pintar, berbagai informasi kesehatan dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Perubahan ini membawa banyak manfaat. Informasi mengenai pola hidup sehat, pencegahan penyakit, kesehatan ibu dan anak, hingga layanan kesehatan pemerintah dapat tersebar lebih cepat dan luas. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang tidak boleh diabaikan, yaitu penyebaran hoaks kesehatan.
Data BPS menunjukkan bahwa akses internet masyarakat Aceh semakin luas. Pada 2024, persentase rumah tangga di Aceh yang pernah mengakses internet mencapai sekitar 88,95 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Namun, meningkatnya akses digital harus diikuti kemampuan memahami informasi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang salah.
Hari ini, informasi kesehatan tidak hanya bersaing dengan informasi lainnya, tetapi juga bersaing dengan informasi yang belum tentu benar. Klaim mengenai obat tertentu, terapi tanpa bukti ilmiah, maupun informasi palsu tentang vaksin dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan edukasi dari tenaga kesehatan.
Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi kebijakan kesehatan Aceh. Pemerintah tidak cukup hanya membangun fasilitas kesehatan, meningkatkan jumlah tenaga medis, atau menyediakan obat-obatan. Pada era digital, pemerintah juga harus memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, dan memilih informasi kesehatan yang benar.
KETIKA HOAKS KESEHATAN MENJADI ANCAMAN BARU
Hoaks kesehatan bukan sekadar kesalahan informasi biasa. Dampaknya dapat memengaruhi perilaku masyarakat dan menentukan keputusan penting terkait kesehatan.
Salah satu pengalaman nyata terjadi saat pandemi COVID-19. Pada awal program vaksinasi, Dinas Kesehatan Aceh menyampaikan bahwa masih terdapat tenaga kesehatan yang terpengaruh informasi hoaks sehingga merasa ragu menerima vaksin. Hal ini menunjukkan bahwa informasi palsu dapat memengaruhi siapa saja, bahkan kelompok yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan.
Selain itu, pemerintah Aceh juga perlu menghadapi berbagai informasi palsu mengenai keamanan vaksin, efek samping, serta klaim kesehatan yang beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Kasus tersebut menjadi pelajaran penting bahwa tantangan kesehatan saat ini bukan hanya mengenai ketersediaan layanan, tetapi juga mengenai kepercayaan masyarakat terhadap informasi ilmiah.
DAMPAK NEGATIF HOAKS TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT ACEH
Pertama, hoaks dapat menyebabkan masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang tidak tepat. Seseorang yang mempercayai informasi palsu dapat menunda pemeriksaan medis, menggunakan obat tanpa pengawasan tenaga kesehatan, atau memilih terapi yang belum terbukti aman.
Kedua, hoaks dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Padahal, keberhasilan program kesehatan seperti imunisasi, pencegahan penyakit menular, dan edukasi kesehatan sangat bergantung pada kepercayaan publik.
Ketiga, hoaks dapat meningkatkan beban pelayanan kesehatan. Penyakit yang sebenarnya dapat dicegah atau ditangani sejak awal dapat menjadi lebih berat akibat keputusan kesehatan yang salah.
Keempat, hoaks dapat memperlebar kesenjangan kesehatan karena kelompok masyarakat dengan literasi digital rendah menjadi lebih rentan menerima informasi yang tidak benar.
ERA DIGITAL JUGA MEMBERIKAN PELUANG BESAR
Walaupun memiliki risiko, teknologi digital bukanlah ancaman yang harus dihindari. Justru, teknologi dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Media sosial dapat digunakan sebagai sarana edukasi kesehatan yang cepat dan menarik. Pemerintah, tenaga kesehatan, dan institusi pendidikan dapat menyampaikan informasi kesehatan melalui konten yang sederhana dan mudah dipahami.
Selain itu, layanan kesehatan digital seperti konsultasi daring, aplikasi kesehatan, dan sistem informasi kesehatan dapat membantu masyarakat memperoleh informasi yang lebih terpercaya.
Karena itu, persoalannya bukan apakah teknologi digital digunakan atau tidak, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan menggunakannya secara bijak.
MENGAPA LITERASI KESEHATAN DIGITAL HARUS MENJADI PRIORITAS ACEH?
Selama ini pembangunan kesehatan sering berfokus pada fasilitas fisik seperti rumah sakit, alat kesehatan, dan jumlah tenaga medis. Semua hal tersebut tetap penting, tetapi tantangan kesehatan modern membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang memiliki akses pelayanan kesehatan, tetapi juga masyarakat yang mampu memahami informasi dan mengambil keputusan yang tepat.
Karena itu, literasi kesehatan digital harus menjadi bagian dari strategi promosi kesehatan Aceh.
SOLUSI MEMBANGUN MASYARAKAT ACEH YANG CERDAS INFORMASI KESEHATAN
Pertama, pemerintah perlu memasukkan literasi kesehatan digital dalam program promosi kesehatan. Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang cara memeriksa sumber informasi dan mengenali ciri informasi palsu.
Kedua, tenaga kesehatan perlu lebih aktif hadir di ruang digital sebagai sumber informasi terpercaya. Dokter, perawat, dan bidan memiliki peran penting dalam menjelaskan isu kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Ketiga, pemerintah daerah perlu menyediakan kanal informasi kesehatan resmi yang komunikatif dan sesuai dengan karakter masyarakat.
Keempat, sekolah dan perguruan tinggi perlu dilibatkan dalam membangun budaya kritis terhadap informasi digital.
Kelima, kerja sama antara pemerintah, media, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat harus diperkuat karena hoaks kesehatan tidak dapat dilawan oleh satu pihak saja.
PENUTUP
Tantangan kesehatan Aceh di masa depan tidak hanya tentang bagaimana menyediakan pelayanan ketika masyarakat sakit, tetapi juga bagaimana mencegah masyarakat mengambil keputusan yang salah akibat informasi yang keliru.
Di era digital, sebuah informasi dapat menyebar lebih cepat daripada tenaga kesehatan memberikan klarifikasi. Karena itu, literasi kesehatan digital harus dipandang sebagai bagian penting dari kebijakan kesehatan modern.
Aceh membutuhkan masyarakat yang tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga mampu memahami dan menilai informasi tersebut.
Sebab kesehatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui rumah sakit dan obat-obatan, tetapi juga melalui pengetahuan yang benar.
Di era digital, melawan hoaks kesehatan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi bagian dari menjaga masa depan kesehatan masyarakat Aceh.
Penulis adalah:Mahasiswa prodi magister kesehatan masyarakat fakultas kedokteran USK)












