Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026 Jadi Momentum Persatuan Umat, Prof. Adjunct Dr. Marniati Serukan Gerakan Dakwah Ukhuwah Islamiyah

BERITA8 Dilihat

BANDA ACEH — Prof. Adjunct Dr. Marniati, S.E., M.Kes., menyerukan pentingnya persatuan umat Islam, penguatan kerukunan, serta tumbuhnya gerakan kasih sayang dan saling melindungi dalam momentum Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026.

Menurutnya, muzakarah internasional ini hendaknya menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat hubungan antarelemen umat, dan membangun gerakan bersama demi kemajuan Islam di seluruh Nusantara hingga ke tingkat dunia.

Ia menegaskan bahwa umat Islam perlu terus menumbuhkan sikap saling menghargai, menghormati, dan melindungi, sekaligus menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Semangat keislaman harus diwujudkan melalui akhlak mulia, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

“Sudah saatnya kita memperkuat persatuan. Kita adalah umat Rasulullah SAW. Jangan sampai perbedaan pandangan dan jalan dakwah membuat kita saling menjauh, saling menuding, bahkan melemahkan satu sama lain. Mari kita duduk bersama, saling menguatkan, dan berjalan berdampingan untuk kemaslahatan umat,” ujar Prof. Marniati.

Menyatukan Gerakan Dakwah, Bukan Mempertajam Perbedaan

Prof. Marniati berharap seluruh organisasi Islam, majelis ilmu, dan kelompok gerakan dakwah mendapatkan ruang yang luas untuk membangun komunikasi, berdialog, dan bekerja sama dalam semangat persaudaraan.

Ia secara khusus mengajak berbagai organisasi dan majelis keislaman untuk terus memperkuat hubungan, saling menghormati, dan menghidupkan kebaikan satu sama lain.

Menurutnya, setiap gerakan dakwah memiliki ruang pengabdian yang dapat memberikan manfaat bagi umat. Karena itu, perbedaan pendekatan dan pemikiran hendaknya tidak menjadi penghalang untuk membangun kerja sama dalam bidang pendidikan, sosial, pembinaan generasi muda, dan pemberdayaan masyarakat.

“Yang kita harapkan adalah gerakan persatuan. Semua dapat duduk seiring, saling menghidupkan, saling membantu, dan saling melengkapi. Kita tidak harus selalu sama dalam segala hal untuk bisa bekerja bersama. Yang terpenting, kita menjaga adab, menghormati perbedaan, dan mengutamakan kemaslahatan umat,” tegasnya.

Ia menilai, persatuan bukan sekadar slogan yang disampaikan dalam forum keagamaan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan.

Persatuan sebagai Kekuatan Menghadapi Tantangan Bangsa

Di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, Prof. Marniati juga mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi beragam tantangan ekonomi, sosial, dan kehidupan keluarga. Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat membutuhkan pegangan moral, keteladanan, serta harapan untuk menghadapi masa depan.

Menurutnya, ulama, akademisi, tokoh agama, dan pemimpin organisasi Islam memiliki tanggung jawab bersama untuk menghadirkan dakwah yang menyejukkan, memberikan pencerahan, dan membangkitkan semangat masyarakat.

Dakwah hendaknya tidak berhenti pada perbedaan pendapat, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun pendidikan, meningkatkan kesejahteraan, memperkuat kepedulian sosial, dan menanamkan nilai-nilai akhlak kepada generasi muda.

Prof. Marniati menegaskan bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya diukur dari jumlah pengikut atau besarnya organisasi, tetapi juga dari kemampuan menjaga persaudaraan, memuliakan sesama, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia.

Ia mengajak seluruh umat Islam untuk mengarahkan energi, ilmu, dan potensi yang dimiliki bagi kemajuan bersama. Persatuan yang dibangun atas dasar keikhlasan, akhlak, dan tanggung jawab akan menjadi modal penting bagi kebangkitan umat Islam di Nusantara maupun di seluruh dunia.

“Kalau umat Islam bersatu dalam kebaikan, saling menguatkan, dan bekerja bersama, insyaallah kita akan menjadi umat yang lebih kuat dan bermartabat. Bukan hanya dihormati di mata dunia, tetapi kita juga berharap memperoleh rida Allah SWT melalui persaudaraan, amal saleh, dan pengabdian kepada sesama,” tuturnya.

Ia berharap Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026 tidak hanya menjadi forum keilmuan dan spiritual, tetapi juga menjadi titik awal penguatan silaturahmi serta kerja sama nyata di antara berbagai elemen umat Islam.

Persatuan Harus Terus Disuarakan demi Kebaikan Umat

Menutup seruannya, Prof. Marniati menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026. Ia berharap kegiatan ini membawa keberkahan, memperluas persaudaraan, serta melahirkan gerakan persatuan yang berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa seruan persatuan harus terus disampaikan, dirawat, dan diwujudkan demi kebaikan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Selamat dan sukses atas penyelenggaraan Muzakarah Internasional Tauhid Sufi 2026. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan menjadikan momentum ini sebagai jalan untuk mempererat persatuan umat Islam. Mari kita tinggalkan sikap saling menuding, perkuat kasih sayang, dan bergerak bersama demi kemajuan Islam di seluruh Nusantara bahkan dunia,” pungkas Prof. Marniati.

Baginya, persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menyatukan hati dan langkah untuk tujuan yang lebih mulia: menjaga ukhuwah, menebarkan kasih sayang, dan membangun kemaslahatan umat di bawah nilai-nilai Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *