Egoisme Menggerus Ukhuwah, Perbedaan Jadi Pemicu Perpecahan Umat

BERITA42 Dilihat

Aceh Besar — Di tengah kehidupan bermasyarakat sering kali egoisme merusak tatanan ukhuwah. Umat Islam kerap menyaksikan bagaimana perbedaan pendapat, baik dalam urusan keduniaan, pilihan politik, bahkan dalam perkara-perkara khilafiyah agama menjadi pemutus tali silaturahmi. Begitu mudah menyalahkan, membenci dan enggan menghargai pandangan orang lain yang berbeda dengan kita.

Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Armiadi Musa MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Idul Adha 1447 H di Masjid Abu Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, (27/5/2026).

Menurut Prof Armiadi, Nabi Ibrahim AS mengajarkan kelembutan hati dan kerendahan jiwa. Untuk itu ia mendorong, melalui momentum kurban ini, mari kita sembelih sifat keras kepala kita. Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan, namun menjaga persaudaraan, saling menghormati dan hidup rukun di dalam gampong adalah kewajiban yang diperintahkan oleh agama.

“Jangan sampai kurban kita secara lahiriah diterima, namun di hadapan Allah kita berdosa karena memelihara sifat angkuh dan gemar memecah belah umat,” tegasnya.

Prof Armiadi menjelaskan, Idul Adha atau Uroe Raya Haji bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban lalu membagikan dagingnya sebagaimana tradis yang selama ini kita lakukan, tetapi lebih dari itu, kurban adalah madrasah ruhani yang mengajarkan tiga hikmah besar kehidupan:

Pertama, ujian cinta dan loyalitas tertinggi kepada Allah. Nabi Ibrahim AS adalah seorang ayah yang harus menanti kehadiran seorang anak selama puluhan tahun hingga rambutnya memutih. Ketika Nabi Ismail AS lahir dan mulai tumbuh menjadi remaja yang saleh dan berbakti, Allah Swt. justru mendatangkan ujian yang teramat berat lewat mimpi. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tunggal kesayangannya itu.

Secara logika keduniawian, ungkapnya, ini perintah yang sangat berat dan menyayat hati. Namun, Nabiyullah Ibrahim AS ini mengajarkan kepada kita sebuah hakikat cinta yang sejati kepada Sang Khalik. Beliau membuktikan bahwa cintanya kepada Sang Pencipta jauh melampaui cintanya kepada dunia, harta, bahkan anak kandungnya sendiri.

Kedua, menumbuhkan sikap taslim atau kepatuhan mutlak tanpa syarat. Taslim yaitu kepatuhan secara totalitas dan ketundukan mutlak kepada perintah Allah Swt. Nabi Ibrahim tidak berdebat, tidak mengeluh dan tidak mencari-cari alasan untuk menghindar. Begitu pula dengan Nabi Ismail dan Ibunda Hajar. Mereka satu suara dalam ketaatan.

“Di zaman modern ini, terkadang kita sering kali mematuhi aturan Allah hanya jika aturan itu sejalan dengan logika atau keuntungan pribadi kita. Melalui ibadah kurban, kita diajarkan untuk taat tanpa tetapi dan patuh tanpa nanti. Ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, termasuk dalam menegakkan syariat Islam di bumi Aceh ini, maka kewajiban kita adalah mengatakan: “sami’na wa atha’na”, kami dengar dan kami taat,” ungkapnya.

Ketiga, menyembelih egoisme, sifat merasa paling benar dan angkuh. Ketika pisau yang tajam sudah berada di leher Nabi Ismail dan keduanya telah berserah diri, Allah Swt dengan kuasa-Nya mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar dari surga.

Apa pesan tersirat di balik mukjizat ini? Allah Swt sama sekali tidak membutuhkan darah atau daging hewan yang kita kurbankan. Allah berfirman: “Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Lembu atau kambing kurban yang kita sembelih hari ini adalah simbol. Yang sesungguhnya harus kita sembelih dan kita buang jauh-jauh adalah sifat-sifat hewani atau bahamiyah dan subu’iyah atau kebuasan yang ada di dalam dada kita.

“Hewan ternak memiliki sifat egois, mau menang sendiri, dan tidak berakal. Maka, ibadah kurban menuntut kita untuk menyembelih penyakit hati berupa sifat merasa diri paling benar, sombong dan menganggap orang lain selalu salah,” pungkas mantan Kepala Baitul Mal Aceh ini.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *