Buka Festival Literasi Aceh Besar 2026, Rita Mayasari Ajak Masyarakat Wujudkan Budaya Membaca sebagai Gerakan Bersama

BERITA48 Dilihat

KOTA JANTHO – Bunda Literasi Kabupaten Aceh Besar, Hj. Rita Mayasari, secara resmi membuka Festival Literasi Kabupaten Aceh Besar Tahun 2026 dengan mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan budaya membaca sebagai gerakan bersama untuk menciptakan generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, di Kota Jantho, Senin (20/7/2026).

Dalam sambutannya pada pembukaan festival, Rita Mayasari menyampaikan bahwa Festival Literasi bukan sekadar ajang perlombaan dan pameran, tetapi menjadi ruang edukatif yang mempertemukan masyarakat melalui berbagai aktivitas literasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan kecintaan membaca, serta memperkuat budaya literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Istri Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris itu juga mengapresiasi terselenggaranya Festival Literasi Kabupaten Aceh Besar tahun 2026 sebagai upaya dalam membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, dan memiliki budaya baca yang kuat.

“Semoga dengan digelarnya festival literasi ini, bukan sekadar ajang perlombaan dan pameran, tetapi merupakan gerakan bersama untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca, memperluas wawasan, serta membangun generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Rita Mayasari juga menegaskan kembali bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Menurutnya, literasi merupakan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, memecahkan persoalan, serta memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ia meyakini bahwa bangsa dengan budaya membaca yang kuat akan melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, produktif, dan berkarakter. Sebaliknya, rendahnya budaya literasi akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, membangun literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau perpustakaan semata, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Rita Mayasari juga menyoroti tantangan yang dihadapi Aceh Besar dalam membangun budaya literasi, mulai dari derasnya arus informasi di media sosial, rendahnya minat baca sebagian masyarakat, hingga penggunaan gawai yang lebih banyak dimanfaatkan untuk hiburan dibandingkan pembelajaran.

Meski demikian, Rita mengaku optimistis tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang melalui kolaborasi antara pemerintah, perpustakaan, sekolah, komunitas literasi, perguruan tinggi, tokoh agama, dan generasi muda.

Sebagai Bunda Literasi, Rita berharap perpustakaan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, melainkan menjadi pusat belajar masyarakat, ruang kreativitas, tempat berdiskusi, hingga pusat pemberdayaan ekonomi keluarga.

Keluarga diajak mulai menanamkan budaya membaca sejak dini melalui kebiasaan sederhana, seperti menyediakan waktu membaca 15 menit setiap hari, membacakan cerita kepada anak, serta membatasi penggunaan gawai yang tidak produktif.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Rita menilai masyarakat perlu memiliki literasi digital agar mampu memilah informasi, membedakan fakta dan hoaks, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Mengakhiri rangkaian pembukaan, Rita Mayasari menyatakan Festival Literasi Kabupaten Aceh Besar Tahun 2026 dengan tema “Festival Literasi: Menumbuhkan Kreativitas, Menginspirasi Generasi” resmi dibuka.

“Kami berharap festival ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan di Aceh Besar,” pungkasnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *