Stafsus Gubernur Aceh Nektu Bahas Progres Pemulihan Lahan Pertanian dengan Plt Kadistanbun

BERITA5 Dilihat

Banda Aceh – Staf Khusus Gubernur Aceh Junaidi (Nektu) bertemu Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, Senin (26/10/2026).

Dalam pertemuan itu, Nektu menyampaikan sejumlah masukan dari petani terkait laju pemulihan sawah dan kebun yang masih perlu dipercepat.

Nektu datang sambil mendampingi kelompok tani dari Subulussalam. Ia menekankan pentingnya mempercepat pekerjaan di lapangan sebelum intensitas hujan meningkat dan waktu pelaksanaan semakin terbatas menjelang akhir tahun.

“Masih ada sawah yang belum tertangani maksimal, terutama yang rusak berat. Jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung juga perlu perhatian. Dari sisi perkebunan, komoditas kelapa sawit, kakao, kopi, pinang, dan lainnya masih memerlukan dukungan,” kata Nektu.

Ia meminta dinas terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak agar langkah percepatan bisa lebih efektif.

Menanggapi masukan tersebut, Azanuddin Kurnia menyatakan dinas akan terus memacu pelaksanaan sesuai kemampuan dan kewenangan yang ada. “Kami berupaya memenuhi harapan masyarakat dengan sisa waktu sekitar dua bulan ini,” ujarnya.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menunjukkan luas perkebunan terdampak bencana mencapai 60.438 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40.968 hektare masuk dalam fasilitasi Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian. Pelaksanaannya masih berlangsung, mulai dari pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL), pembibitan, hingga penyaluran bantuan. Rinciannya sebagai berikut:

Kopi: 30.189 hektare di lima kabupaten.

Kakao: 9.054 hektare di 10 kabupaten.

Kelapa: 1.230 hektare di tujuh kabupaten.

Karet: 495 hektare di dua kabupaten.

Sementara itu, pemulihan 40.852 hektare sawah rusak ringan hingga sedang terus berjalan. Program tersebut dibagi dalam dua tahap, yakni tahap I seluas 28.211 hektare dan tahap II seluas 12.641 hektare.

Hingga 26 Oktober 2026, serapan anggaran pemulihan sawah di Aceh sudah mencapai 62,1 persen.

Selain pemulihan lahan, program pembangunan infrastruktur pendukung pertanian mencakup 641 unit irigasi perpompaan, 149 unit irigasi perpipaan, 45 unit bangunan konservasi, 300 unit jaringan irigasi tersier, dan 106 unit jalan usaha tani. Pelaksanaan masing-masing kegiatan memiliki capaian yang berbeda.

Untuk lahan sawah yang mengalami kerusakan berat, Azanuddin mengatakan pihaknya akan terus mengupayakan dukungan fasilitasi dari Kementerian Pertanian pada 2027. Sementara itu, pemulihan lahan yang menjadi sasaran program tahun ini terus dipercepat.

“Kami terus mengimbau kepada dinas kabupaten/kota untuk terus mendampingi dan memacu kelompok tani serta pihak TNI untuk dapat terus bekerja maksimal,” kata Azanuddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *