Meski Tak Terlihat, Pemantauan Hilal di Aceh Jadi Media Edukasi Umat

BERITA15 Dilihat

BANDA ACEH – Penampakan hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Aceh dipastikan belum terlihat. Hasil tersebut disampaikan dalam pemantauan hilal yang dilakukan di Observatorium Hilal Tgk Chiek Kuta Karang, Selasa, 17 Februari 2026.

Sejak sore, masyarakat bersama petugas rukyatul hilal memadati lokasi observatorium untuk menyaksikan langsung proses pemantauan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari penentuan awal Ramadan, tetapi juga sarana edukasi publik mengenai metode hisab dan rukyat dalam penetapan awal bulan hijriah.

Melansir Ajnn, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari, menjelaskan posisi hilal saat pemantauan berada di bawah ufuk atau minus, sehingga tidak mungkin terlihat.

“Kita lakukan pemantauan hari ini dalam rangka edukasi bahwa pada 29 Syakban tetap dilakukan rukyat. Walaupun dipastikan hilal tidak tampak, ini menjadi pembelajaran bahwa ketika hilal tidak terlihat maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari,” kata Azhari.

Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Berdasarkan perhitungan tersebut, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun masyarakat diminta tetap menunggu keputusan resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Azhari menegaskan umat Islam dianjurkan memulai puasa setelah adanya penetapan resmi pemerintah guna menghindari perbedaan pelaksanaan ibadah.

“Untuk masyarakat, karena tidak semua memahami hisab dan rukyat, maka sebaiknya menunggu pengumuman Menteri Agama. Jika sudah ditetapkan, maka di situlah kita mulai berpuasa,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Observatorium, Alfirdaus, menjelaskan secara teknis posisi hilal saat matahari terbenam.

Ia menyebutkan, bulan telah lebih dahulu terbenam sebelum waktu magrib pada pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam. Saat matahari terbenam pada posisi 258 derajat, hilal berada pada minus 0,97 derajat di bawah ufuk dengan elongasi 0,93 derajat.

“Untuk wilayah Indonesia lainnya, hilal juga masih berada di bawah ufuk, yakni antara minus 1 derajat di wilayah Sumatra hingga minus 2,4 derajat di wilayah Papua,” jelasnya.

Dengan posisi minus tersebut, hilal dipastikan tidak mungkin terlihat di Aceh maupun seluruh Indonesia. Karena itu, bulan Sya’ban 1447 H harus diistikmalkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

Keputusan resmi tetap menunggu pengumuman Menteri Agama yang dijadwalkan disiarkan langsung hari ini pukul 19.00 WIB. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *