Mengubah Sampah Menjadi Sumber Penghasilan di Banda Aceh

BERITA, OPINI123 Dilihat

Oleh: Bung Syarif**

 

Di tengah meningkatnya volume sampah di Kota Banda Aceh, masyarakat kini memiliki peluang untuk mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber penghasilan. Melalui pemilahan sampah dan program bank sampah, warga tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi. Rata-rata volumen sampah perhari di Banda Aceh berkisar 250-260 ton per hari.

Sementara bulan ramadhan meningkat sebesar 300-310 ton per hari. Tentu ini bukan hanya sebatas angka-angka, akan tetapi jauh dari itu ada pesan moralitas, philosofis dan kultural masyarakat Kota Banda Aceh. Karena itu inisiasi Program “Lisaku”; Lihat Sampah Kutip Saja, atau “Olah Sampah jadi Cuan” menjadi urgen.

Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) telah mengembangkan program bank sampah sebagai bagian dari upaya mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dalam sistem ini, masyarakat dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah, seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, dan logam, untuk kemudian ditimbang dan dinilai dalam bentuk tabungan atau uang.

Contoh olahan dari sampah plastik

 

Selain memberikan penghasilan tambahan, kegiatan ini juga membuka peluang usaha baru. Sampah plastik dapat diolah menjadi kerajinan tangan, ecobrick, atau bahan baku industri daur ulang. Sementara itu, sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang memiliki nilai jual bagi petani maupun penghobi tanaman.

Bagi masyarakat Banda Aceh, langkah memulai sangat sederhana. Pisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, kumpulkan sampah yang memiliki nilai ekonomi, lalu setorkan ke bank sampah terdekat. Semakin rutin melakukan pemilahan, semakin besar pula potensi pendapatan yang dapat diperoleh.

Program ini juga mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Dengan semakin banyak warga yang terlibat, jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat berkurang, sekaligus memperpanjang usia layanan TPA yang saat ini menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah.

Mengolah sampah menjadi penghasilan bukan lagi sekadar konsep, melainkan peluang nyata bagi masyarakat Banda Aceh. Melalui kebiasaan memilah, mendaur ulang, dan memanfaatkan bank sampah, setiap rumah tangga dapat berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi keluarga. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat menjadi aset yang bernilai jika dikelola dengan baik.

Langkah inilah dilakukan oleh Bunda Iin ASN Setwan DPRK Banda Aceh. Ada pesan yang menggelitik Carlie Papa Romeo (CPR) dalam Group Whatshapp Alumni UIN Ar-Raniry Pemko yang dikirim Bunda Iin.

Pesannya begini ” Assalamualaikum Saudaraku…

“Izinkan kami mengajak untuk mengurangi sampah plastik (bungkus minyak, rinso, makanan..dll) berakhir di TPA dengan mengumpulkan dan sadaqah sampah plastik refill kepada kami atau menjualnya kepada kami dalam keadaan bersih, mari sama-sama kita berjihad untuk menyelamatkan bumi ini dengan mengurangi dan menunda sampa plastik berakhir di Tempat Pembuangan Akhir/Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Plastik jika ditanam berpuluh tahun bahkan seratus tahun ada yang tidak hancur, jika dibakar polusi bisa menyebabkan penyakit, karenanya selamatkan diri kita dan anak cucu kita mulai dari sekarang, barakallah. Saudaraku boleh hubungin kami di nomor : 081360493171.”

Lebih lanjut beliau berpesan kami akan menerima sampah plastik saudaraku semua dan akan mengolahnya dan hasilnya sebagian kami sadaqahkan untuk anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan. Langkah mulia ini telah beliau jalankan sejak tahun 2003. Iapu mengirimkan beberapa karya dari olahan plastik tersebut.

CPR berjanji akan membantu menuliskan/mempublis langkah mulia ini dan mengumpulkan plastik untuh diserahkan kepada beliau guna diolah jadi karya bernilai seni dan cuan. Ini langkah mulia dan patut kita apresiasi dan dukung bersama. Sejak itulah CPR tak lagi membakar sampah plastik dan mulai menyimpan untuk dikasih kepada Bunda Iin agar diolah jadi cuan. Sukses terus bunda iin. Semoga ikhtiar bunda mendapat amal jariyah dan langkah ini bisa ditularkan pada ibu-ibu PKK Gampong se-Aceh umumnya dan Banda Aceh khususnya. Takbir

 

**Penulis adalah Plh Sekdis Pendidikan Dayah, Magister Hukum Tata Negara USK, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Direktur Aceh Research Institute, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *