Ketua HUDA Abiya Kuta Krueng Ajak Dayah se-Aceh Bantu Bersihkan Masjid Sekitar

BERITA109 Dilihat

 

Banda Aceh — Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA), Dr. Tgk. H. Anwar Usman yang akrab disapa Abiya Kuta Krueng, mengeluarkan seruan moral kepada seluruh dayah di Aceh untuk terlibat aktif membantu membersihkan masjid-masjid dan meunasah di sekitar lingkungan mereka, khususnya bagi dayah-dayah yang tidak terdampak banjir.

Seruan ini disampaikan Abiya setelah melihat kondisi sejumlah rumah ibadah di berbagai kabupaten/kota, baik yang tidak terdampak banjir maupun yang terdampak banjir beberapa hari terakhir.

Banyak masjid dipenuhi lumpur, sampah, dan genangan air, sehingga tidak dapat digunakan untuk shalat berjamaah dan aktivitas keagamaan masyarakat.

Menurut Abiya Kuta Krueng, saat masyarakat sedang berjuang memulihkan rumah masing-masing, para santri dan civitas dayah dapat mengambil peran penting untuk membantu kerja-kerja pembersihan rumah ibadah tersebut.

“Masjid adalah pusat kehidupan umat. Jika masyarakat masih disibukkan memulihkan rumah, sudah sepatutnya dayah-dayah yang tidak terkena banjir turun tangan membantu membersihkan masjid di sekitarnya. Ini kesempatan amal, kesempatan bakti, dan kesempatan menolong sesama,” ujar Abiya Kuta Krueng.

Abiya Kuta Krueng juga menjelaskan bahwa keberadaan dayah bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga pilar sosial yang harus hadir di tengah masyarakat di saat senang maupun susah.

Ulama dan santri, katanya, memiliki amanah moral untuk menjadi pelanjut tradisi khidmah—pengabdian tanpa pamrih yang telah diwariskan para ulama Aceh sejak masa lampau.

Abiya Kuta Krueng mengatakan bahwa beberapa alasan mendasar mengapa dayah harus terlibat aktif adalah karena status sentral masjid sebagai pusat ibadah dan identitas umat

Masjid bukan sekadar tempat shalat, tetapi juga simbol kesucian dan jiwa masyarakat Aceh. Saat masjid kotor dan rusak akibat banjir, maka masyarakat kehilangan pusat spiritual mereka. Membersihkannya berarti mengembalikan ruh kehidupan.

Di sisi lain, tambah pimpinan Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng ini, Dayah adalah institusi yang memiliki tenaga, solidaritas, dan kedisiplinan. Selain itu, nilai pengabdian adalah inti dari pendidikan dayah

Abiya Kuta Krueng juga menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi pengingat bahwa dayah-dayah di Aceh bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga institusi yang memiliki peran sosial besar dalam kehidupan masyarakat.

“Santri dan ulama harus hadir sebagai penolong masyarakat. Kita tidak hanya belajar kitab tentang akhlak, tetapi juga wajib mencontohkannya. Mari jadikan gerakan membersihkan masjid ini sebagai amal jama‘i untuk Aceh,” tegas Abiya.

Beliau juga berharap agar para pimpinan dayah menggerakkan santri masing-masing secara teratur dan berkoordinasi dengan pemerintah gampong, pengurus masjid, dan relawan setempat agar pembersihan berjalan efektif dan tidak saling tumpang-tindih.

Menurut Abiya, jika setiap dayah di Aceh menggerakkan minimal puluhan santri, maka ratusan masjid yang terdampak banjir dapat dibersihkan dalam waktu singkat.

HUDA memandang gerakan ini bukan hanya respons jangka pendek, tetapi bagian dari pembangunan karakter santri, mencintai rumah Allah, memuliakan masyarakat, dan mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam bentuk tindakan nyata.

“Semoga Aceh dijauhkan dari bencana, dan semoga santri-santri kita menjadi penyebar rahmat dan penolong umat di mana saja mereka berada,” tutup Abiya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *