Banda Aceh— Tokoh Aceh, Ghazali Abbas Adan mengajak mahasiswa Aceh agar tidak hanya menjadi penonton terhadap gelombang demonstrasi mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah, khususnya di Jakarta dan Yogyakarta.
Menurut Ghazali, mahasiswa Aceh perlu menunjukkan kepedulian terhadap berbagai persoalan nasional sekaligus memperjuangkan kepentingan daerah, terutama terkait pengelolaan cadangan gas alam di Blok Andaman yang saat ini menjadi perhatian publik.
“Mahasiswa Aceh jangan hanya menjadi penonton ketika mahasiswa di Jakarta dan Yogyakarta menyuarakan aspirasi rakyat. Sebagai bagian dari elemen bangsa, mahasiswa Aceh juga memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kritik dan gagasan demi kepentingan rakyat serta daerahnya,” kata Ghazali Abbas, Senin (15/6/2026).
Abang Jakarta 1979 itu menilai aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa di Jakarta pada 12 Juni 2026 dan diikuti mahasiswa di Yogyakarta merupakan bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam sistem demokrasi.
“Saya memberikan apresiasi terhadap gerakan mahasiswa tersebut. Dalam perspektif agama, apa yang dilakukan mahasiswa merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Nilai itu juga sejalan dengan semangat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila,” ujarnya.
Ghazali mengatakan, selain mengangkat isu-isu nasional, mahasiswa Aceh juga perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan strategis yang menyangkut masa depan daerah. Salah satunya adalah rencana pengelolaan gas alam yang ditemukan di Blok Andaman.
Menurutnya, Aceh sebagai daerah yang memiliki status otonomi khusus harus memperoleh manfaat maksimal dari kekayaan alam yang berada di wilayahnya.
“Allah SWT telah menganugerahkan kekayaan alam yang luar biasa kepada Aceh melalui kandungan gas di Blok Andaman. Karena itu, rakyat Aceh harus dapat menikmati dan merasakan kemakmuran dari anugerah tersebut,” katanya.
Mantan anggota parlemen DPR/DPD/MPR RI itu berharap Pemerintah Republik Indonesia tidak mengambil kebijakan yang merugikan Aceh dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut, baik terkait proses pengolahan maupun pembagian hasilnya.
“Saya berharap pemerintah pusat tidak melakukan akal-akalan atau tipu-tipu terkait prosesing gas Blok Andaman maupun skema bagi hasilnya. Semua harus dilakukan secara transparan dan berpihak pada kepentingan rakyat Aceh,” tegasnya.
Ghazali secara khusus mendorong agar gas dari Blok Andaman diproses di daratan Aceh, terutama di kawasan Arun, Kota Lhokseumawe, yang dinilainya memiliki pengalaman panjang dalam industri gas alam.
“Gas Blok Andaman harus diproses di daratan Aceh, khususnya di kawasan Arun Lhokseumawe yang selama puluhan tahun menjadi pusat pengolahan gas alam. Infrastruktur, pengalaman, dan sumber daya manusia telah tersedia. Selain itu, pengolahan di Aceh akan memberikan multiplier effect yang besar bagi perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Politisi PPP itu menegaskan masyarakat Aceh harus bersatu mengawal kebijakan tersebut dan menolak segala upaya yang berpotensi memindahkan proses pengolahan gas ke daerah lain.
“Lawan siapa pun yang dengan dalih apa pun ingin memindahkan prosesing gas Andaman ke luar Aceh. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan bagi rakyat Aceh,” katanya.
Karena itu, Ghazali mengajak mahasiswa Aceh untuk tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu mengawal kepentingan daerah di tengah berbagai dinamika nasional.
“Ayo mahasiswa Aceh bangkit dan tunjukkan jati diri sebagai mahasiswa yang berkarakter, memiliki idealisme, serta mampu memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.












