Di Forum Internasional, Mualem Paparkan Transformasi Aceh Pasca Damai

BERITA137 Dilihat

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menjadi pembicara pada International Conference on After the Peace Agreements: Bangsamoro and Beyond yang digelar Institute for Autonomy and Governance (IAG) di Manila, Filipina, Rabu, 19 November 2025. Mualem mengikuti konferensi tersebut secara daring dari Meuligoe Gubernur Aceh.

Dalam forum itu, Mualem memaparkan pengalaman Aceh dalam membangun perdamaian berkelanjutan. Ia berbicara pada sesi bertema “From Rebel Chief to Chief Executives”, yang mengulas perjalanan dirinya dari pemimpin gerakan bersenjata menjadi kepala pemerintahan.

Mualem kembali menegaskan komitmen Aceh terhadap Perjanjian Helsinki 2005 sebagai dasar penyelesaian konflik. Menurutnya, keberadaan partai politik lokal menjadi kanal baru bagi mantan kombatan untuk menyalurkan aspirasi secara demokratis.

“Kami sepakat perdamaian. Aspirasi kami kini disalurkan lewat partai politik lokal,” ujar Mualem.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Aceh saat ini memprioritaskan peningkatan kesejahteraan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) serta mengoptimalkan keistimewaan dan otonomi khusus sebagai amanat perjanjian damai. Kendati demikian, transisi dari gerakan perlawanan ke pemerintahan formal disebut tidak selalu mudah, terutama terkait penyesuaian dengan regulasi nasional.

“Kami yang dulu berada di peperangan kini harus menyesuaikan dengan sistem administrasi,” kata dia.

Dalam paparannya, Mualem juga menyinggung hubungan kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut kedekatan itu dibangun atas dasar kepercayaan dan kerja sama politik antara Partai Aceh dan Partai Gerindra. Ia mengingatkan, dirinya telah mendukung Prabowo dalam tiga pemilihan presiden hingga akhirnya menang pada pemilu terakhir.

“Ini kesetiaan dan kepercayaan antara saya dan Presiden Prabowo. Sekarang saya seorang gubernur, perpanjangan tangan Presiden di daerah. Kami selalu menjalankan perintah beliau dalam semua program, baik infrastruktur maupun sosial,” ujar Mualem.

Ia menambahkan, komunikasinya dengan Presiden dilakukan secara intensif, terutama terkait percepatan pembangunan ekonomi dan infrastruktur agar Aceh tidak tertinggal dari daerah lain.

“Saya minta tolong ke beliau untuk membangun Aceh agar tidak tertinggal dibanding daerah lain,” kata Mualem.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *