Chik Pante Kulu Ditata, PUSDA : Ini Investasi Masa Depan dan Bisa Jadi Ikon Baru Banda Aceh

BERITA5 Dilihat

BANDA ACEH — Langkah Pemerintah Kota Banda Aceh menata Kawasan Jalan Chik Pante Kulu mendapat dukungan dari kalangan akademisi muda. Wakil Ketua Pusat Studi Pemuda Aceh (PUSDA), Nuzulul Fahmi, S.P., M.Si., menilai penataan kawasan perdagangan tersebut harus dipandang bukan hanya sebagai proyek memperindah kota, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk kenyamanan masyarakat dan penguatan ekonomi pedagang.

Menurut Nuzulul, penataan kawasan pasar merupakan langkah strategis apabila dilakukan dengan memperhatikan akses masyarakat, kenyamanan pejalan kaki, kebersihan, ruang publik, parkir, serta keberlangsungan aktivitas pedagang. .

“Ini bukan sekadar menata pasar supaya terlihat indah. Kalau dirancang dengan baik, kawasan ini bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi baru, tempat masyarakat nyaman berbelanja sekaligus ruang kota yang memiliki identitas,” ujar Nuzulul Fahmi.

Ia menyebut pengalaman sejumlah kota seperti Bandung, Bogor dan Makassar menunjukkan bahwa kawasan perdagangan dapat dikembangkan menjadi ruang ekonomi sekaligus ruang publik yang lebih tertata.

Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah kajian akademik di Banda Aceh. Penelitian tentang revitalisasi Pasar Seutui menemukan bahwa pembenahan pasar berdampak positif terhadap tata kelola, kebersihan, keamanan dan ketertiban, serta dapat meningkatkan kunjungan yang kemudian berpengaruh terhadap pendapatan pedagang.

Kajian lain mengenai kawasan Pasar Aceh menunjukkan pentingnya penataan ruang publik, jalur pedestrian, parkir dan aktivitas pedagang agar fungsi kawasan perdagangan tetap berjalan optimal. Penelitian terbaru mengenai aksesibilitas Pasar Lamnyong juga menekankan pentingnya sirkulasi, zonasi, parkir, bongkar muat dan kondisi jalur dalam menciptakan pasar yang mudah diakses masyarakat.

Karena itu, Nuzulul berharap penataan Chik Pante Kulu tidak berhenti pada pembangunan fisik. Menurutnya, kawasan tersebut perlu memiliki konsep yang kuat, termasuk pengelolaan kebersihan, penataan pedagang, akses pejalan kaki, ruang interaksi masyarakat dan penguatan karakter kawasan.

“Kita harus melihat ini sebagai aset dan investasi Banda Aceh ke depan. Kalau konsepnya matang dan masyarakat dilibatkan, Chik Pante Kulu bisa menjadi ikon baru kota sekaligus memberi manfaat langsung bagi pedagang,” katanya.

Nuzulul menilai keseriusan pemerintah kota perlu diikuti dengan konsistensi pengelolaan setelah pembangunan selesai. Ia berharap Chik Pante Kulu nantinya tidak hanya menjadi kawasan yang lebih asri dan tertata, tetapi juga menjadi destinasi perdagangan yang membuat masyarakat betah, meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka peluang bagi pelaku UMKM.

“Harapan kita, ini menjadi sebuah terobosan yang menghadirkan kawasan yang hidup, nyaman dan produktif, sehingga ujungnya masyarakat dan pedagang sama-sama sejahtera,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *