Akademisi Apresiasi Kebijakan Bupati Aceh Besar Pada Program Integrasi Kurikulum Dayah di Aceh Besar

BERITA76 Dilihat

KOTA JANTHO – Akademisi, Dr. Dicky Wirianto, memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen serius Bupati Aceh Besar, Syech Muharam, dalam merealisasikan janji politiknya untuk mengintegrasikan kurikulum kajian kitab kuning dari Dayah ke dalam sistem pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah tersebut.

Dalam rilis resmi yang dikirim, Dr. Dicky menilai langkah ini sebagai terobosan strategis yang tidak hanya memenuhi aspek akademik, tetapi juga memperkuat identitas keislaman masyarakat Aceh Besar melalui jalur pendidikan dasar.

“Sebagai akademisi, saya merespons positif atas komitmen Bupati Syech Muharam. Ini bukan sekadar wacane, melainkan realisasi konkret dari janji politik yang berpihak pada penguatan nilai-nilai Islam melalui pendidikan,” ujar Dr. Dicky, Senin (8/6/2026).

Dr. Dicky menyoroti bahwa program prioritas Bupati Syech Muharam yang memasukkan kajian kitab kuning ke dalam kurikulum muatan lokal dinilai sebagai langkah cerdas dan tepat sasaran. Menurutnya, integrasi ini akan menciptakan keseimbangan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama sejak dini.

Yang menjadi poin penting dalam penilaian Dr. Dicky adalah mekanisme rekrutmen tenaga pengajar. Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Besar telah melakukan seleksi ketat untuk memastikan hanya alumni dayah di Aceh yang memiliki kualitas keilmuan teruji yang direkrut menjadi guru di satuan pendidikan formal SD dan SMP.

“Seleksi ketat ini menjamin bahwa materi yang diajarkan tidak hanya secara tekstual, tetapi juga dipahami secara kontekstual oleh para pengajar yang merupakan produk langsung dari sistem pendidikan dayah. Ini menjamin kualitas transfer ilmu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Dicky mengungkapkan bahwa materi kajian kitab kuning direncanakan menjadi skala prioritas dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran setiap hari di awal jadwal sekolah. Langkah ini, menurutnya, membuktikan keseriusan Bupati Aceh Besar dalam memastikan materi tersebut terserap dengan baik oleh siswa tanpa mengganggu jam pelajaran inti lainnya.

“Dengan durasi dua jam per hari di pagi hari, ketika kondisi otak siswa masih segar, diharapkan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur dalam kitab kuning dapat menyerap lebih optimal. Ini bentuk komitmen nyata, bukan sekadar simbolis,” tambah Dr. Dicky.

Ia juga menekankan potensi dampak jangka panjang dari program ini. Jika berhasil dilaksanakan dengan baik di Aceh Besar, Dr. Dicky berharap program ini dapat menjadi pilot project atau model percontohan bagi kabupaten/kota lain di Aceh.

“Keberhasilan di Aceh Besar bisa menjadi rujukan nasional bahkan internasional dalam mengintegrasikan pendidikan tradisional keagamaan dengan sistem formal modern. Ini akan memperkokoh pondasi keagamaan generasi muda Aceh dalam melaksanakan sistem kehidupan Islami secara kaffah,” pungkasnya.

Apresiasi serupa diharapkan akan mendorong dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk orang tua siswa, tokoh masyarakat, dan instansi terkait, demi kelancaran implementasi program unggulan Bupati Syech Muharam ini di tahun ajaran mendatang.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *