Yayasan Ubudiyah Anugerahkan Gelar Tertinggi Amirul Qulub kepada Abuya Amran Waly Alkhalidi .

BERITA33 Dilihat

LABUHAN HAJI — Yayasan Ubudiyah menganugerahkan Gelar Amirul Qulub kepada Abuya Amran Waly Al-Khalidy, sebagai penghormatan tertinggi atas 28 tahun perjuangan dan pengabdian beliau membimbing umat melalui ilmu tauhid dan tasawuf di Tanah Serambi Mekkah.

Anugerah tersebut diserahkan oleh Prof. Adjunct Dr. Marniati, M.Kes., didampingi para wakil Rektor dalam sebuah momentum penuh khidmat di Labuhan Haji sekaligus memperingati Maulid nabi Besar Muhammad SAW..

Amirul Qulub merupakan penghargaan tertinggi Yayasan Ubudiyah dan hanya diberikan kepada satu ulama sepanjang sejarah, Abuya Amran Waly Al-Khalidy.

Dan anugerah tertinggi lainya hanya diberikan yayasan ubudiyah kepada Tuanku Syed Faizuddin Putra ibni Syed Sirajuddin Jamalullail pada buoan november 2025 .

Penganugerahan ini menjadi catatan sejarah penting bagi Aceh. Abuya Amran Waly tercatat sebagai satu-satunya ulama yang menerima gelar tersebut, setelah sebelumnya dianugerahkan kepada Raja Muda Perlis.

Gelar Amirul Qulub, yang bermakna pemimpin hati, diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dipandang memiliki peran besar dalam membimbing umat untuk mengenal Allah SWT, memperkuat iman, memperindah akhlak, dan menjalani kehidupan dengan keikhlasan.

Dalam pandangan Prof adjunct Marniati M.Kes , inti perjuangan Abuya Amran Waly adalah mengajak manusia untuk semakin mengenal Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Sejak 1998 hingga hari ini, Abuya Amran Waly Al-Khalidy terus mengabdikan perjuangannya melalui dakwah Tauhid Tasawuf dengan menghidupkan hati, membersihkan jiwa, membina akhlak, dan mengajak umat semakin dekat serta mencintai Allah dan Rasulullah SAW.

Dalam momentum tersebut, Prof. Adjunct Dr. Marniati juga menyerukan agar masyarakat Aceh tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan dalam memahami dan mengamalkan ajaran keagamaan.

Menurut Prof. Marniati, Tauhid Tasawuf yang diajarkan Abuya Amran Waly merupakan jalan pembinaan hati yang menekankan pengenalan kepada Allah SWT, perbaikan ibadah, penyucian jiwa, dan pembentukan akhlak.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh dan para ulama untuk mengedepankan persatuan

“Umat Islam hendaknya bersatu sebagai satu umat Rasulullah SAW. Jangan terpecah oleh perbedaan, tetapi saling menjaga persaudaraan.”

Labuhan Haji Menjadi Tempat Berkumpulnya Penuntut Ilmu

Prof. Marniati juga menyampaikan bahwa keberadaan dakwah Tauhid Tasawuf Abuya Amran Waly telah menjadikan Labuhan Haji sebagai salah satu tempat yang didatangi jamaah dari berbagai daerah.

Menurutnya, selama perjalanan dakwah Abuya, ulama dan penuntut ilmu dari luar negeri serta berbagai daerah di Indonesia datang ke Labuhan Haji untuk belajar dan mengikuti pengajian serta pembinaan rohani bersama Abuya.

“Ini seharusnya menjadi kebanggaan bagi kita sebagai rakyat Aceh. Ketika orang dari berbagai daerah dan bahkan dari luar negeri datang ke Aceh untuk belajar kepada ulama kita, maka keberadaan ulama tersebut harus kita syukuri ujar Prof. Marniati.

Ia menyebut Labuhan Haji sebagai bagian penting dari perjalanan dakwah Tauhid Tasawuf yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Menurut pandangan Prof. Marniati, Aceh patut bersyukur karena masih memiliki seorang ulama tauhid tasawuf yang menjadi tempat belajar dan rujukan rohani bagi jamaah dari berbagai wilayah.

“Kita harus bersyukur bahwa di bumi Aceh masih ada ulama seperti Abuya Amran Waly yang dapat menjadi tempat masyarakat belajar, memperbaiki hati, memperbaiki ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa banyak pihak dari berbagai wilayah yang datang ke Aceh karena tertarik untuk mempelajari dakwah dan pembinaan hati yang disampaikan Abuya.
Dan ini juga bagian dari menungkatkan wisatawan ruhani di bumi serambi mekkah.

Keberadaan Abuya, lanjutnya, hendaknya tidak dilihat hanya sebagai milik satu kelompok, tetapi sebagai bagian dari kekayaan spiritual Aceh yang perlu dijaga dengan penuh rasa syukur dan penghormatan.

Prof. Marniati berharap ajaran dan nilai-nilai pembinaan hati tersebut dapat diterima dan dipahami secara baik oleh masyarakat Aceh sebagai bagian dari upaya memperkuat keimanan, akhlak, dan persaudaraan umat.

Yayasan Ubudiyah berharap perjuangan Abuya Amran Waly selama 28 tahun di Aceh terus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, rendah hati, mencintai ulama, mencintai umat, serta menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama kehidupan.

Dari Labuhan Haji, Tanah Serambi Mekkah, sejarah tersebut kembali ditorehkan melalui penghormatan kepada seorang ulama yang selama puluhan tahun mengabdikan dirinya dalam dakwah dan pembinaan hati umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *