BANDA ACEH – Ratusan warga memadati kawasan Jalan Garuda, Kota Banda Aceh, untuk berburu aneka hidangan berbuka puasa, Minggu sore. Sejak pukul 16.00 WIB, deretan lapak dengan tenda berwarna-warni telah memenuhi sisi jalan yang berada di pusat kota tersebut.
Beragam menu dijajakan pedagang, mulai dari makanan tradisional Aceh, aneka gorengan, es buah, hingga makanan berat. Kepadatan pengunjung bahkan membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat.
Sentra takjil di Jalan Garuda memang menjadi lokasi musiman yang hanya hadir selama bulan Ramadan. Letaknya yang strategis, berdekatan dengan Masjid Raya Baiturrahman, menjadikan kawasan ini selalu ramai diserbu pemburu takjil setiap sore menjelang azan magrib.
Salah seorang pedagang makanan tradisional Aceh, Yulina, mengaku rutin berjualan setiap Ramadan. Ia menawarkan sejumlah panganan khas seperti Sambai Oen Peugaga, Kue Adee, Ie Bu Peudah, dan belacan.
“Yang paling diminati Sambai Oen Peugaga. Lalapan ini terdiri dari campuran 44 jenis daun yang juga sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional,” ujarnya.
Dalam sehari, Yulina mampu menghabiskan hingga dua talam Sambai Oen Peugaga. Menurutnya, momentum Ramadan memberikan peningkatan signifikan terhadap penjualan. Pembeli datang silih berganti hingga menjelang waktu berbuka.
Menariknya, sentra takjil ini tidak hanya dipadati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga warga non-Muslim yang turut berburu kuliner sore hari. Kehadiran mereka menambah semarak suasana dan mencerminkan keberagaman masyarakat Banda Aceh.
Angel, seorang warga non-Muslim, mengaku hampir setiap tahun datang ke Jalan Garuda untuk membeli makanan berbuka bersama keluarganya.
“Setiap tahun saya ke sini. Banyak jajanan khas yang cuma ada saat Ramadan. Sekalian beli untuk keluarga di rumah,” kata Angel.
Ia menilai keramaian di Jalan Garuda menjadi momen yang menyenangkan karena masyarakat dapat berbaur tanpa melihat perbedaan latar belakang.
Suasana jelang magrib semakin padat saat warga membawa kantong-kantong belanjaan sambil menunggu waktu berbuka. Ramadan pun menjadi berkah tersendiri, tak hanya bagi pedagang, tetapi juga bagi warga yang menikmati tradisi berburu takjil di jantung ibu kota Provinsi Aceh itu.***








