Banda Aceh – Anggota Komisi III DPR RI daerah pemilihan (Dapil) Aceh HM Nasir Djamil, mendesak Kementerian yang membidangi industri segera menindaklanjuti informasi kelangkaan semen di Aceh, pasca bencana hidrometeorologi di provinsi itu.
“Saya juga berharap Komisi yang membidangi industri di DPR RI untuk mempertanyakan penyebab kelangkaan barang dibutuhkan masyarakat di tengah-tengah duka bencana di Aceh,” kata HM Nasir Djamil yang dihubungi dari Banda Aceh, Sabtu.
Peran serta instansi terkait industri semen penting saat ini sebagai upaya bersama untuk mengembalikan situasi keresahan masyarakat akibat langkanya semen itu penting guna mengembalikan ke kondisi normal, ujar politisi PKS itu.
Padahal di Aceh, Nasir menyebutkan terdapat industri/pabrik semen yakni PT Solusi Bangunan Andalas (SBA) di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
“Gusar dan kecewa ketika mendapatkan informasi semen di Banda Aceh dan Aceh Besar langka, padahal pabriknya ada di situ (Lhoknga, Aceh Besar). Dan itu sangat merugikan Aceh, baik material maupun immaterial,,” ujarnya menambahkan.
Langkanya semen di Aceh karena pabrik (PT SBA) tidak beroperasi karena tidak mendapat suplai energi listrik PLN ke PT SBA, Nasir Djamil menilai alasan itu mengesankan Aceh tidak penting.
Bencana hidrometeorologi yang menimpa 18 kabupaten/kota di Aceh, telah menyebabkan kerusakan berbagai infrastruktur pablik, termasuk tumbangnya tower-tower milik PT PLN, sehingga menganggu suplai energi listrik perusahaan “plat merah” itu.
Anggota Komisi III DPR RI itu menyatakan seharusnya PT SBA memiliki genset yang bisa digunakan sebagai cadangan jika energi listrik PLN bermasalah atau padam.
Apalagi, PT SBA adalah perusahaan holding dibawah Semen Indonesia Grup. “Seharus perusahaan semen itu sudah diperkuat dengan manajemen bencana, mengingat Aceh adalah daerah bencana,” kata M Nasir Djamil.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Banda Aceh dan Aceh Besar mengeluh karena “menghilangnya” semen dipasaran sejak sepekan terakhir. Langkanya semen dipedagang itu berdampak terhentinya pengerjaan pembangunan, seperti perumahan.
“Saya sudah menghentikan pembangunan rumah, dan pekerjanya juga suruh stop dulu sampai adanya kepastian ketersedian semen dipasar,” kata pengusaha properti, Putra










