Kembangkan Kacang Koro Pedang sebagai Alternatif Bahan Baku Tempe, Solusi Bangun Andalas Raih Apresiasi Minerba ESDM 2026

BERITA34 Dilihat

LHOKNGA – PT Solusi Bangun Andalas berhasil meraih Apresiasi Minerba 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis pengembangan kacang koro pedang sebagai alternatif bahan baku tempe.

Penghargaan kategori Badan Usaha Pertambangan Komoditas Mineral tersebut diterima di Jakarta pada 3 November 2026, atas keberhasilan program bertajuk Keberhasilan Merevitalisasi Kearifan Lokal Koro Meusyahu.

Program yang dikembangkan bersama Rumoh Pangan Aceh (RPA) ini merupakan bagian dari inisiatif Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui PENDEKAR (Pelestarian Pangan Lokal, Eksistensi, Nilai Adat, dan Eratnya Kohesi Sosial, Komunitas Lingkar Tambang, Revitalisasi Mandiri Gampong).

Inisiatif tersebut hadir sebagai jawaban atas tantangan ketahanan pangan di Aceh, khususnya tingginya ketergantungan terhadap pasokan kedelai dari luar daerah. Sekitar 90 persen kebutuhan kedelai Aceh masih dipasok dari luar provinsi sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global yang berdampak langsung pada biaya produksi dan keberlangsungan usaha perajin tempe.

Direktur PT Solusi Bangun Andalas, Edi Sarwono, mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kolaborasi perusahaan bersama masyarakat dalam mengoptimalkan potensi lokal untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi.

“Bagi kami, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar menghadirkan bantuan, tetapi bagaimana bersama-sama menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi masyarakat. Melalui revitalisasi kacang koro pedang, kami ingin mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, serta membuka peluang usaha yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkap Edi Sarwono.

Koro Pedang, Alternatif Bahan Baku Tempe

Program ini berangkat dari persoalan yang dihadapi para perajin tempe lokal, yakni tingginya ketergantungan terhadap pasokan kedelai dari luar Aceh. Fluktuasi harga bahan baku kerap memengaruhi biaya produksi dan menekan keberlangsungan usaha masyarakat.

Bersama Rumoh Pangan Aceh, Solusi Bangun Andalas mendorong masyarakat di wilayah lingkar operasional perusahaan, khususnya Desa Nagaumbang, untuk mengoptimalkan budidaya kacang koro pedang sebagai komoditas pangan alternatif.

Kacang koro pedang dinilai memiliki potensi ekonomi karena biaya pokok produksinya lebih rendah dan produktivitas lahannya lebih baik dibandingkan kedelai.

Foto Tim Community Relations Solusi Bangun Andalas memantau dan berdiskusi langsung bersama petani Kacang Koro Pedang.

Pemanfaatannya sebagai bahan baku tempe juga berpeluang membantu perajin menekan biaya produksi hingga 15 persen.

Selain memberikan efisiensi biaya, pengembangan komoditas lokal ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan usaha masyarakat karena ketersediaan bahan baku dapat dibangun dari hasil budidaya di wilayah setempat.

Upaya tersebut juga berpotensi mengurangi jejak emisi karbon dari aktivitas transportasi bahan baku yang selama ini didatangkan dari luar provinsi.

Bangun Ekosistem Pangan dan Kemandirian Ekonomi

Lebih dari sekadar pengembangan komoditas pertanian, revitalisasi kacang koro pedang merupakan upaya membangun ekosistem pangan lokal yang melibatkan masyarakat, kelompok pengolah pangan, dan pelaku usaha.

Melalui kolaborasi tersebut, potensi pertanian lokal diharapkan tidak hanya berhenti sebagai hasil budidaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Program PENDEKAR juga menjadi bagian dari komitmen Solusi Bangun Andalas dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, sekaligus menjaga eksistensi kearifan lokal dan mempererat kohesi sosial.

Inisiatif revitalisasi kacang koro pedang ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan pangan lokal yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan demikian, pemanfaatan potensi daerah tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat dapat melahirkan inovasi berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan ekonomi daerah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *