Kasus HIV/AIDS di Aceh Melonjak, Lelaki Seks Lelaki Dominasi hingga Separuh Lebih

BERITA70 Dilihat

BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Aceh mencatat lonjakan signifikan kasus HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) dalam dua dekade terakhir. Berdasarkan data kumulatif sejak 2004 hingga Juli 2025, tercatat 1.974 kasus HIV di Aceh, dengan 81 persen penderitanya adalah laki-laki.

“Rinciannya ada 1.914 kasus HIV dan 60 untuk kasus AIDS. Jadi kalau ditotal 1.974 kasus,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, Iman Murahman di Banda Aceh, Senin, 11 Agustus 2025.

Menurut Iman, lonjakan terbesar terjadi sejak 2019, dengan angka kasus tahunan menembus di atas 100. Bahkan mencapai lebih dari 300 kasus per tahun pada 2023–2024.

“Pada Januari–Juli tahun ini, tercatat 210 kasus HIV/AIDS di Aceh, meliputi 203 kasus HIV dan 7 kasus AIDS,” kata Iman.

Kata Iman, peningkatan kasus tersebut terutama berasal dari kelompok populasi kunci lelaki seks lelaki (LSL) yang mencapai 996 kasus atau lebih dari 50 persen total penderita.

“Tren ini konsisten sejak 2019, di mana setiap tahun 80 persen kasus didominasi laki-laki,” ujarnya.

Yang mengkhawatirkan, kata Iman, kasus pada kelompok usia muda kian meningkat. Pada 2025, 13 persen kasus berasal dari rentang usia 11–20 tahun. Ia menjelaskan sebagian besar penderita di kelompok usia ini kemungkinan terinfeksi sejak usia SMP, namun baru terdeteksi 5–6 tahun kemudian saat gejala mulai muncul.

Menurut Iman, faktor risiko utama berasal dari hubungan seksual sesama laki-laki, yang dinilai lebih berisiko menularkan HIV/AIDS. Selain itu, lemahnya pendidikan kesehatan reproduksi, kurangnya komunikasi dalam keluarga, dan pengaruh lingkungan menjadi pemicu.

“Banyak remaja yang mencari informasi di luar rumah, dan itu membuka celah bagi pihak-pihak yang memanfaatkan mereka,” ucap Iman.

Iman juga menyoroti kasus yang melibatkan orang luar daerah. Dari total kasus, 188 penderita merupakan warga luar Aceh. Sementara wilayah dengan jumlah kasus tertinggi berdasarkan KTP adalah Aceh Utara (209 kasus), Banda Aceh (204), dan Aceh Besar (175).

Dinkes Aceh, kata Iman, telah melakukan edukasi di sekolah dan kampus, meski sejauh ini belum merata. Namun, ia menilai perlu adanya kerja sama masif antara pemerintah kabupaten/kota, sekolah, dan tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan sejak tingkat SMP/MTS.

“Idealnya edukasi dilakukan langsung di sekolah, bahkan oleh guru, bukan hanya tenaga kesehatan. Pengetahuan guru soal perkembangan kasus ini sangat penting,” ucapnya.

Iman menegaskan bahwa HIV belum dapat disembuhkan, namun jumlah virus dapat ditekan dengan terapi antiretroviral (ARV).

“Pengobatan yang teratur bisa membuat pasien tetap sehat. Tantangan terbesarnya adalah memastikan penderita rutin minum obat agar tidak menularkan ke orang lain,” pungkasnya.***

 

Sumber: Ajnn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *