Arsip Nasional Republik Indonesia Dorong Pemanfaatan Arsip Bencana melalui Peluncuran Buku MemoryGraph

BERITA8 Dilihat

 

Banda Aceh, 26 Maret 2026 — Arsip Nasional Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pembelajaran dan penguatan ketahanan masyarakat melalui dukungannya pada peluncuran buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto yang diselenggarakan di Auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Center, Universitas Syiah Kuala.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran arsip dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Aceh yang terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi bencana. Peristiwa Tsunami Samudra Hindia 2004 dan bencana yang terus berulang menunjukkan bahwa perubahan lanskap tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga memengaruhi memori kolektif masyarakat.

Berangkat dari pengalaman tersebut, berkembang pendekatan dokumentasi visual MemoryGraph yang memungkinkan masyarakat merekam perubahan lanskap melalui perbandingan foto masa lalu dan kondisi terkini dari lokasi yang sama (repeat photography), sekaligus memperkuat hubungan antara arsip, ruang, dan pengalaman hidup masyarakat.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, dalam sambutannya menegaskan bahwa arsip memiliki peran strategis dalam menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.

“ANRI sangat mendukung berbagai upaya agar arsip bencana tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, terutama dalam membangun kehidupan yang lebih baik ke depan. Arsip harus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center, Syamsidik, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga ingatan bencana sebagai bagian dari pembangunan budaya keselamatan (safety culture), terutama di tengah kecenderungan memudarnya ingatan seiring pergantian generasi.

“Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung semakin melupakan kejadian bencana besar yang pernah terjadi, terutama seiring dengan pergantian generasi. Buku ini menjadi salah satu upaya penting dalam membangun safety culture yang harus terus-menerus disampaikan dan diwariskan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala, Agussabti, yang mewakili Rektor Mirza Tabrani, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional yang melatarbelakangi lahirnya buku ini.

“Kami menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas inisiatif yang telah lama diinisiasi oleh Center for Southeast Asian Studies bersama para peneliti di Aceh. Ini menunjukkan pentingnya kerja kolaboratif lintas negara dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa buku ini merupakan hasil proses panjang berbasis pengalaman lapangan, mulai dari inisiatif Aceh Tsunami Mobile Museum, pengembangan pendekatan memory hunting, hingga lahirnya konsep MemoryGraph sebagai metode dokumentasi visual yang partisipatif.

Buku MemoryGraph disusun sebagai panduan praktis yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat, sekaligus membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Memasuki sesi diskusi publik yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, para narasumber yang juga merupakan penulis buku berbagi perspektif dari pengalaman akademik dan lapangan.

Yoshimi Nishi sebagai salah satu penggagas MemoryGraph di Aceh menegaskan bahwa lanskap tidak hanya merepresentasikan ruang fisik, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan dan ingatan masyarakat. Ia menekankan bahwa melalui pendekatan visual seperti MemoryGraph, hubungan antara arsip dan pengalaman hidup dapat dipahami secara lebih utuh, sehingga memori kebencanaan tidak terputus antar generasi.

Alfi Rahman, Direktur Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) Universitas Syiah Kuala, menambahkan bahwa pendekatan ini lahir dari refleksi atas perubahan lanskap pascabencana yang tidak selalu diiringi dengan upaya menjaga ingatan masyarakat.

“Bencana bukan hanya menyebabkan kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan memori. Lanskap merupakan penyimpan ingatan kolektif yang perlu dijaga dan didokumentasikan,” jelasnya.

Dari perspektif kearsipan, arsiparis Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI, Eka Husnul Hidayati, menegaskan bahwa pendekatan MemoryGraph memperkaya praktik kearsipan melalui keterlibatan masyarakat.

“Arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga perlu dihidupkan kembali dalam pengalaman masyarakat agar tetap relevan dan bermakna,” ujarnya.

Perspektif literasi publik dan pengalaman lapangan turut disampaikan oleh Yarmen Dinamika dan Rizka Puspitasari, yang menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendokumentasikan dan mewariskan memori kebencanaan melalui pendekatan visual.

Buku MemoryGraph merupakan hasil kolaborasi antara Arsip Nasional Republik Indonesia melalui Balai Arsip Statis dan Tsunami, Center for Southeast Asian Studies, dan Universitas Syiah Kuala. Inisiatif pengembangan pendekatan ini juga melibatkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh serta Museum Tsunami Aceh sebagai bagian dari upaya bersama dalam merawat dan mendokumentasikan memori kebencanaan. Melalui buku MemoryGraph, berbagai pihak diharapkan dapat memperoleh panduan praktis untuk memahami perubahan lanskap, memperkuat ingatan kolektif, serta membangun kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.

Sebagai lembaga yang memiliki mandat dalam pengelolaan arsip statis nasional, ANRI berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa yang akan datang. (ekh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed