Air Sungai Meluap, Jembatan Bailey di Aceh Utara Miring 15 Derajat

BERITA58 Dilihat

ACEH UTARA – Jembatan Bailey milik Polri di Desa Lhok Cut, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, dilaporkan mengalami kemiringan sekitar 15 derajat setelah diterjang banjir akibat meluapnya air sungai pada 11 Maret 2026 lalu.

Meski demikian, jembatan yang menjadi akses utama bagi warga empat desa tersebut masih dapat dilalui kendaraan roda dua dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan.

“Padahal sebelum kejadian tersebut pembangunan Jembatan Bailey itu sebenarnya telah rampung 100 persen, baik pada pekerjaan pondasi atau bantalan jembatan maupun pemasangan konstruksi jembatan,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, Ahad, 15 Maret 2026.

Joko mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, jembatan tersebut mengalami pergeseran pada pondasi tiang pancang setelah debit air sungai meningkat dan meluap pada 11 Maret 2026 lalu. Pergeseran itu menyebabkan salah satu bagian konstruksi jembatan mengalami kemiringan sekitar 15 derajat.

Meski mengalami kemiringan, katanya, jembatan tersebut saat ini masih dapat dilalui kendaraan roda dua dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan. Sementara itu, proses normalisasi dan perapihan jalan penghubung menuju jembatan masih terus dilakukan.

Menurutnya, Polda Aceh juga merencanakan perbaikan pada bagian pondasi jembatan yang mengalami pergeseran setelah perayaan Idulfitri agar jembatan dapat kembali berfungsi secara optimal.

“Sebagai tindak lanjut, perbaikan terhadap bagian pondasi jembatan yang mengalami pergeseran direncanakan akan dilaksanakan setelah perayaan Idulfitri, sehingga jembatan dapat kembali berfungsi secara optimal dan aman bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap upaya tersebut dapat segera memulihkan akses transportasi warga serta menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.

Keberadaan jembatan tersebut sangat penting bagi masyarakat setempat karena menjadi akses penghubung utama bagi empat desa dengan total 1.354 kepala keluarga.

“Setiap hari jembatan itu dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari petani yang membawa hasil kebun, pedagang yang menjalankan kegiatan ekonomi, hingga para pelajar yang menuju sekolah,” kata Joko.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *