Aceh Besar, 29 Oktober 2026 – Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Direktorat Pemberdayaan Alternatif, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Life Skill budidaya cabai bagi 50 masyarakat Desa Lamlung, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, pada 27–29 Oktober 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pemberdayaan alternatif untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan rawan kultivasi tanaman terlarang melalui pengembangan komoditas pertanian yang produktif, legal, dan bernilai ekonomi. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Budidaya cabai dipilih karena memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas pertanian yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Melalui keterampilan yang diberikan, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan usaha produktif sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Kegiatan dibuka oleh Nuzulian, S.Sos., Plh. Kepala Bagian Umum BNNP Aceh. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pelatihan budidaya cabai merupakan bentuk intervensi nyata BNN untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam menciptakan alternatif penghidupan yang berkelanjutan.
Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menegaskan bahwa pemberdayaan alternatif merupakan langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan rawan narkoba.
“Upaya mewujudkan Aceh yang bersih dari narkoba tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga harus dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi keluarga. Melalui pelatihan budidaya cabai ini, kami ingin mendorong masyarakat agar memiliki keterampilan, peluang usaha, dan sumber penghasilan yang legal serta berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memastikan program ini memberikan manfaat nyata.
“Harapan kami, masyarakat Desa Lamlung dapat memanfaatkan keterampilan ini untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menjadi contoh bahwa kawasan rawan narkoba dapat bertransformasi menjadi kawasan yang produktif, mandiri, dan bersih dari narkoba,” tambahnya.
Dukungan pemerintah daerah disampaikan oleh Drh. Ade Kurniawan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memastikan keberlanjutan program, mulai dari pendampingan teknis, penyediaan sarana produksi, penguatan kelompok tani, hingga akses pemasaran hasil panen.
Sementara itu, Sri Haryanti, S.Sos., M.Si., Ketua Tim IV Direktorat Pemberdayaan Alternatif BNN, yang hadir mewakili Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, menegaskan bahwa pemberdayaan alternatif merupakan strategi penting dalam menangani kawasan rawan kultivasi tanaman terlarang.
Menurutnya, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui pendekatan penegakan hukum, tetapi juga perlu diimbangi dengan upaya meningkatkan keterampilan, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta membuka akses terhadap sumber penghidupan yang legal dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat terkait, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program pemberdayaan alternatif.
*Bekali Masyarakat dengan Keterampilan dan Peluang Usaha*
Bimtek yang diikuti 50 peserta ini dilaksanakan melalui penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, dan praktik lapangan. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengenalan komoditas cabai, persiapan lahan, pemilihan benih, penggunaan sarana produksi, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga penanganan hasil panen.
Melalui praktik langsung, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya cabai merah secara mandiri maupun berkelompok. Selain keterampilan teknis, peserta juga didorong memahami pentingnya perencanaan produksi dan pemasaran agar usaha pertanian yang dikembangkan dapat memberikan hasil optimal.
Dukungan dunia usaha turut memperkuat prospek keberlanjutan program. Murthala, CEO PT Rayeuk Aceh Utama, yang hadir dalam pembukaan kegiatan, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan budidaya cabai di Desa Lamlung.
PT Rayeuk Aceh Utama direncanakan menjadi calon offtaker atau mitra penampung hasil panen masyarakat. Rencana kemitraan ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih baik bagi petani sehingga hasil budidaya cabai memiliki peluang pemasaran yang jelas.
Kehadiran calon mitra usaha tersebut menjadi langkah penting untuk menghubungkan peningkatan keterampilan masyarakat dengan peluang ekonomi nyata. Dengan dukungan pendampingan teknis, penguatan kapasitas produksi, dan akses pasar, budidaya cabai diharapkan berkembang menjadi usaha produktif yang berkelanjutan.
*Pemberdayaan Alternatif sebagai Strategi P4GN*
BNN menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan alternatif tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi harus dilanjutkan dengan pendampingan, penguatan kelembagaan kelompok tani, dukungan sarana produksi, serta pengembangan kemitraan pemasaran.
Partisipasi aktif masyarakat dan dukungan para pemangku kepentingan diperlukan agar keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi keluarga.
Melalui program ini, BNN berupaya mendorong transformasi sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan rawan kultivasi tanaman terlarang. Peningkatan kesejahteraan dan terbukanya peluang usaha yang legal diharapkan dapat mengurangi kerentanan masyarakat terhadap aktivitas ilegal sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih produktif dan berdaya.
Bimtek Life Skill budidaya cabai di Desa Lamlung menjadi wujud komitmen BNN dalam mengedepankan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian integral dari strategi P4GN. Sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan alternatif penghidupan yang berkelanjutan serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman narkotika.
War on Drugs for Humanity
HUMAS BNNP ACEH






