Pascabanjir, Sekolah di Aceh Belajar Fleksibel

BERITA75 Dilihat

BANDA ACEH — Dinas Pendidikan Aceh menerapkan kebijakan pembelajaran fleksibel bagi sekolah-sekolah yang terdampak bencana banjir besar di sejumlah wilayah Aceh. Kebijakan ini disesuaikan dengan tingkat dampak bencana, mulai dari kategori parah, sedang, hingga rendah, guna memastikan hak belajar peserta didik tetap terpenuhi tanpa mengabaikan keselamatan dan kondisi psikologis siswa.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Aceh Nomor 400.3.8/17472 tentang Penyesuaian Kegiatan Pembelajaran dalam Masa Status Keadaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025. Ia menyebutkan, kegiatan belajar mengajar telah kembali berlangsung sejak 5 Januari 2026.

“Di wilayah dengan dampak parah, pembelajaran semester genap dilaksanakan secara fleksibel, baik melalui tenda darurat maupun dengan menumpang di sekolah terdekat yang tidak terdampak. Murid yang kehilangan rapor akan diberikan nilai sementara hingga rapor pengganti diterbitkan,” kata Murthalamuddin, Selasa, 6 Januari 2026.

Untuk wilayah terdampak sedang, kata dia, sekolah bersama warga dan Cabang Dinas Pendidikan melakukan gotong royong pembersihan fasilitas sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal. Pelaksanaan ujian di wilayah ini dapat diganti dengan tugas mandiri terstruktur sesuai jadwal kalender pendidikan.

“Pelaksanaan ujian di wilayah terdampak sedang, dapat dilakukan melalui tugas mandiri terstruktur dengan penyesuaian jadwal,” ujarnya.

Sementara itu, sekolah di wilayah dengan dampak rendah tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa tanpa penyesuaian khusus.

Murthalamuddin menegaskan pembayaran honor Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Non-ASN serta tunjangan sertifikasi guru triwulan IV Tahun 2025 tetap berjalan di seluruh wilayah terdampak. Pembayaran tersebut mengacu pada Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) yang telah diterbitkan sebelumnya.

“Kami juga menekankan pentingnya gerakan gotong royong untuk membersihkan sekolah, rumah guru, dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari proses pemulihan bersama pascabencana,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *