Malik Musa: Saatnya Aceh Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Umat Islam di Asia Tenggara

BERITA138 Dilihat

 

Kuala Lumpur – Pertemuan penting antar pengusaha Muslim Melayu serantau berlangsung di Cyberjaya, Selangor, Malaysia, pada kamis malam (18/9/2025). Agenda tersebut digagas oleh Persatuan Pengusaha Muslim Melayu ASEAN (PERDASAMA) dengan tujuan memperkuat jejaring bisnis dan kolaborasi strategis antar pengusaha Muslim di kawasan Asia Tenggara November mendatang.

Ketua Genta Pangan Aceh, A. Malik Musa, yang juga Ketua Muhammadiyah Aceh, hadir dalam pertemuan itu. Ia menekankan bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi umat Islam di kawasan, mengingat letak geografisnya yang strategis, tanah subur, dan hasil laut yang melimpah.

“Aceh sejak dahulu dikenal sebagai pintu gerbang peradaban Islam, dan kini saatnya menjadikan Aceh pusat pertemuan ekonomi dan bisnis dunia Islam,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut juga membahas persiapan agenda akbar pada November mendatang di Port Klang, Kuala Lumpur, yang akan mempertemukan para pengusaha Melayu serantau.

Salah satu topik utama yang akan diangkat adalah bagaimana pengusaha Muslim Melayu dapat bersatu, membangun kekuatan ekonomi bersama, serta bersinergi dengan dunia Arab dan Timur Tengah, khususnya negara-negara Islam.

Dalam diskusi, peserta sepakat untuk mengupayakan keterlibatan negara-negara Arab sebagai pemodal utama sekaligus mitra dalam alih teknologi.

Selain itu, kerja sama strategis dengan Tiongkok juga dipandang perlu, mengingat potensi besar dalam bidang teknologi dan industri yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi umat Islam di kawasan ASEAN.

A. Malik Musa menilai bahwa Aceh memiliki daya tarik tersendiri sebagai pusat investasi. Sejarah panjang Aceh sebagai daerah perdagangan internasional sejak era Turki Utsmani, Portugis, dan Belanda menjadikan wilayah ini memiliki fondasi kuat sebagai pusat ekonomi. Komoditas rempah-rempah Aceh yang dulu mendunia, kini dapat dihidupkan kembali dalam kerangka jejaring bisnis modern yang berbasis syariah.

Selain tanah yang subur, Aceh juga memiliki hasil laut yang berlimpah karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Ditambah lagi, Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, sehingga sangat relevan jika dijadikan pusat ekonomi umat Islam sekaligus pusat peradaban dunia Islam.

Dalam kesempatan itu, Malik Musa juga mengusulkan agar setelah pertemuan besar di Port Klang, Malaysia, ke depan pertemuan serupa dapat dilaksanakan di Aceh. Apalagi saat ini, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), telah membuka jalur laut baru dari Krueng Geukueh, Lhokseumawe, menuju Penang, Malaysia. Jalur ini mempermudah arus barang, jasa, maupun penumpang tanpa harus melalui jalur darat via Medan.

Pertemuan turut dihadiri sejumlah pengusaha Malaysia, antara lain Eneck Nor Azmi, pengusaha jasa dan hasil bumi minyak dan gas yang bekerja sama dengan pengusaha Al-Mukaramah Madinah; Encek Sulaiman bin Abdullah, pengusaha travel haji, umrah, dan wisata religi; serta Encek Muhammad Hamdan, pengusaha bidang perikanan dan udang.

Diskusi tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk memperkuat jejaring ekonomi umat Islam demi kejayaan di tingkat regional maupun global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *