JAKARTA – The Islamic Information menulis Pemerintah Arab Saudi, melalui Presidensi Umum Urusan Haramain, memastikan pelaksanaan salat Tarawih tahun ini, di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, digelar dengan format 10 rakaat.
Seperti dikutip dari inilah, keputusan tersebut menegaskan pola ibadah malam yang lama dijaga di dua masjid suci itu. Hal ini juga memberikan kepastian bagi jamaah internasional, termasuk dari Indonesia, terkait tata cara pelaksanaan Salat Tarawih.
Setelah salat Tarawih 10 rakaat, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan salat Witir tiga rakaat. Struktur ini menghasilkan total lima kali taslim (salam) dan berakhir dengan salam penutup dari salat Witir.
Presidensi Umum Urusan Haramain mengatakan format ini dinilai sesuai dengan kebiasaan utama yang dijaga di dua masjid suci. Ini juga memperkuat tradisi ibadah dan keseragaman praktik di tengah jemaah internasional
Bagi jamaah Indonesia, kepastian jumlah rakaat ini penting untuk kesiapan fisik dan mental, terutama bagi lansia maupun jemaah yang menjalankan ibadah puasa sambil menunaikan umrah. Format 10 rakaat dinilai lebih ringkas, namun tetap menjaga kekhusyukan dan kekuatan tradisi ibadah Ramadan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Presidensi Umum Urusan Haramain juga mengungkapkan salat Tarawih akan disiarkan secara global, memungkinkan jemaah Indonesia yang tidak berada di Tanah Suci tetap dapat mengikuti suasana ibadah Ramadan dari dua masjid suci melalui siaran langsung.
Informasi terkait jadwal lengkap, termasuk waktu salat dan daftar imam yang memimpin, biasanya akan dirilis oleh Presiden Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjelang awal Ramadan.
Berdasarkan perhitungan astronomi, Ramadan 2026 di Arab Saudi diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026, bergantung pada hasil rukyah (pemantauan hilal). Bulan suci ini diperkirakan akan berlangsung selama 30 hari, dengan Idul Fitri diperkirakan jatuh sekitar 19–21 Maret 2026.
Selama Ramadan, durasi puasa di Arab Saudi diperkirakan berkisar antara 12–13 jam, seiring dengan kondisi cuaca yang relatif sejuk pada periode akhir musim dingin menuju musim semi. Faktor ini juga menjadi pertimbangan penting bagi jamaah Indonesia yang beribadah di Tanah Suci selama Ramadan.***






