Abiya Kuta Krueng Ingatkan Pemuda Aceh Jangan Lalai dengan Game di Warkop Saat Masyarakat Menderita karena Bencana

BERITA1180 Dilihat

 

Banda Aceh — Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA), Dr. Tgk. H. Anwar Usman atau Abiya Kuta Krueng, melontarkan seruan keras dan terbuka kepada anak-anak muda Aceh agar segera bangkit, meninggalkan kelalaian di warung kopi dan dari permainan game, agar turun langsung membantu masyarakat Aceh yang sedang menderita karena bencana banjir dan longsor.

Abiya menyayangkan realitas yang terjadi di tengah kondisi Aceh yang masih berjuang memulihkan diri dari bencana. Di satu sisi, relawan-relawan dari luar Aceh datang berbondong-bondong membantu membersihkan lumpur di masjid, rumah warga, dan fasilitas umum.

Namun di sisi lain, masih banyak pemuda Aceh yang justru menghabiskan waktu dari pagi hingga malam di warung kopi atau larut dalam permainan game, seakan tidak terusik oleh penderitaan rakyatnya sendiri.

“Ini sungguh ironis. Ketika Aceh sedang ditimpa musibah, orang-orang dari luar Aceh datang membantu dengan tenaga dan waktu mereka. Tapi di saat yang sama, kita masih melihat banyak anak muda Aceh duduk berjam-jam di warung kopi, sibuk bermain game, dan lalai dari tanggung jawab sosialnya,” tegas Abiya Kuta Krueng, Selasa, 23 Desember 2025.

Menurut putra almarhum Abu Kuta Krueng ulama kharismatik Aceh ini, kondisi ini menjadi alarm serius bagi semua pihak, terutama karena tidak sedikit dari pemuda yang lalai tersebut adalah mahasiswa dan generasi terdidik yang seharusnya tampil sebagai agent of change di tengah masyarakat.

Abiya menegaskan bahwa pemuda Aceh memiliki sejarah panjang dalam perjuangan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menghidupkan kembali semangat tersebut dengan tindakan nyata, bukan sekadar retorika.

“Aceh tidak dibangun oleh generasi yang hanya duduk, bermain game, dan menunggu. Aceh dibangun oleh generasi yang bergerak, peduli, dan rela berkorban. Hari ini adalah ujian bagi pemuda kita di Aceh,” ujar Abiya

Dalam seruannya, Abiya juga menegaskan peran penting orang tua agar tidak membiarkan anak-anak mereka larut dalam kelalaian, terlebih di tengah situasi bencana.

“Orang tua tidak boleh diam. Jangan biarkan anak-anak kita tenggelam dalam game dan kesibukan yang melalaikan, sementara tetangga dan saudara kita sedang membersihkan lumpur dan menata kembali hidup mereka,” kata Abiya.

Selain itu, Ketua Umum PB HUDA ini juga menyerukan kepada para khatib Jum’at di seluruh Aceh agar menjadikan mimbar sebagai ruang penyadaran, khususnya kepada para pemuda, supaya bangkit dan mengambil peran sosialnya.

Abiya juga mengajak pimpinan perguruan tinggi, dosen, rektor, serta seluruh elemen masyarakat untuk mendorong mahasiswa dan generasi muda terlibat aktif dalam gerakan kemanusiaan.

“Masjid, kampus, dan ruang publik harus menjadi pusat kebangkitan moral. Pemuda Aceh harus dipanggil untuk turun membantu umatnya, bukan terus-menerus larut dalam kenyamanan,” tambahnya.

Abiya menegaskan bahwa seruan ini bukan sekadar kritik, tetapi ajakan tulus yang lahir dari keprihatinan dan tanggung jawab moral ulama terhadap masa depan Aceh. Menurutnya, bencana harus dijadikan momentum kebangkitan solidaritas dan kepedulian sosial, bukan justru memperlebar jurang ketidakpedulian.

Sebelumnya, PB HUDA melalui Posko HUDA Peduli Bencana Aceh telah menyalurkan bantuan kemanusiaan ke lima kabupaten terdampak banjir, serta lebih awal lagi menyalurkan bantuan ke Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen, bekerja sama dengan berbagai relawan dan tim medis dari luar Aceh.

Abiya berharap, seruan ini menjadi panggilan nurani bagi generasi muda Aceh untuk kembali kepada jati dirinya sebagai pemuda yang peduli dan siap berdiri di barisan depan membantu masyarakat Aceh keluar dari kenestapaan akibat bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *